Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Dahulu kala, Terdapatlah seorang kaisar yang sedang gundah gulana. Ia merasa bahwa dalam mengatur negerinya ia membutuhkan nasehat dan kebijaksanaan. apalah jadinya jika negeri yang ia cintai itu dipimpin oleh seorang kaisar yang tidak tahu mengatur rakyatnya dengan baik.Banyak sudah cendikiawan dan bahkan ulama datang silih berganti memberikan banyak nasihat dan ilmu kebijaksanaan, namun tetap saja ia merasa tidak tenang.
Akhirnya ia mengadakan sayembara yang diumumkan ke seluruh penjuru negeri. Sayembara itu berisi mengenai tiga pertanyaan fundamental yang harus dijawab bagi para peserta kelak. Ketiga pertanyaan itu ,yakni :
1. Kapankah waktu yang paling penting itu ?
2. Siapakah orang yang paling berharga dalam hidup kita ?
3. Pekerjaan apa yang paling utama harus dilakukan?

Setelah lama sayembara tersebut diumumkan, akhirnya berdatanganlah para peserta dari cendikiawan, filsuf bahkan agamawan namun tetap saja jawabannya tidak dapat memuaskan hati sang Kaisar. Mungkin anda bisa?

Oke, mari kita lihat kembali ketiga pertanyaan diatas? untuk pertanyaan pertama, kita sebenarnya tahu jawabannya, namun sering kali kita lupakan. Waktu yang paling penting tentu “sekarang”. Hanya waktu itu yang kita punyai. Sehingga jika kita akan mengatakan kepada orangtua kita bahwa kita sangat mencintainya, betapa kita berutang budi pada mereka, maka lakukan sekarang. Bukan besok atau lima menit lagi. Sekarang, dalam lima menit (anggap saja) sudah terlalu telat. Jika kita merasa bersalah terhadap orangtua kita, jangan terlalu banyak pertimbangan, jangan mencari – cari alasan untuk menundanya. Lakukan saat ini juga. Kesempatan tidak datang dua kali. carpe diem. raihlah moment itu…
Kemudian untuk pertanyaan kedua, memang sulit sekali menjawabnya. Sangat sedikit orang yang mampu menebak dengan benar. Namun sewaktu kita sedang sendirian maka kita benar – benar akan merasakan bahwa kita tahu jawaban dari pertanyaan yang kedua tersebut. Siapakah orang yang paling berharga dalam hidup kita adalah seseorang yang hidup bersama denganmu saat ini.
Suatu ketika pernah tidak kita merasa saat kita sedang bercerita mengenai kemalangan yang menimpa kita kepada seorang teman kita tapi ternyata teman kita merasa bosan. Sesungguhnya teman kita itu tidak sedang mendengarkan, namun ia merasa bosan dengan cerita kita itu. Menderita sekali bukan…
Namun apa yang terjadi jika ternyata teman kita itu sungguh apresiatif dengan apa yang kita ceritakan ke dia. Apalagi jika kemudian ia berkenan memberikan nasihat kepada kita. Lega sekali rasanya. How grateful we are…
Intinya adalah komunikasi dan cinta, hanya bisa dibagi seseorang saat kita ada bersamanya.Tidak peduli seperti apa dia, dialah orang yang paling berharga sedunia untuk kita saat itu. Dia tahu apa yang kita lihat,dia tahu apa yang kita tahu, dan dia sama – sama merespon dengan apa yang kita rasakan.
Coba kita belajar dari banyaknya perceraian yang telah terjadi, rata – rata persoalannya sebenarnya sepele namun karena tidak adanya pemahaman yang baik dari keduanya maka hancurlah pernikahan. Sebenarnya, masing – masing dari kita ingin dijadikan sebagai seseorang yang paling berharga dalam hidup pasangan kita itu, namun seringkali karena capek, sibuk dll maka komunikasi tidak terjalin, maka terjadilah selisih paham. Uangpun semakin banyak bagi para pengacara perceraian!
Jawaban untuk pertanyaan ketiga Sang kaisar, ” pekerjaan apa yang paling utama harus dilakukan? Melayani. Dengan melayani membawa kita pada suasana kebersamaan saling menyayangi dan memahami. Jawaban sederhana namun sering dilupakan.
Nah, sudah tahu dari ketiga pertanyaan sang kaisar.

19740683631.jpgDi ceritakan, tetapi Tuhanlah yang paling mengetahui dan melihat apa yang tersembunyi dalam sejarah masyarakat dan masa yang telah lewat, bahwa dahulu kala, pada masa pemerintahan wangsa Sasaniah di jazirah India dan Indocina, hiduplah dua orang raja bersaudara. Yang lebih tua bernama Syahrayar, dan yang lebih muda bernama Syahzaman. Syahrayar adalah seorang ksatria bermartabat tinggi dan seorang pahlawan yang berani, tak terkalahkan, penuh semangat, dan keras kepala. kekuasaannya mencapai seluruh negeri itu dan penduduknya, sehingga negeri itu setia kepadanya,dan rakyatnya mematuhinya. Syahrayar sendri hidup dan memerintah di India dan Indocina, sementara adiknya diberinya tanah Samarkand untuk dikuasainya.
Sepuluh tahun berlalu, ketika suatu hari Syahrayar yang merasa rindu kepada adiknya, memanggil wazirnya (yang memiliki 2 putri yang satu bernama Syahrazad, satunya lagi Dinarzad) dan menyuruh pergi menemui adiknya. Setelah mengadakan persiapan – persiapan, wazir itu melakukan perjalanan siang dan malam sampai dia tiba di Samarkand. Ketika raja Syahzaman mendengar kedatangan sang wazir, dia kelyar bersama para pelayannya untuk menemuinya. Dia turun dari kuda dan memeluknya, dan menanyakan kabar dari kakaknya, Syahrayar. Wazir itu menjawab bahwa Syahrayar baik – baik saja, dan bahwa dia mengirimnya untuk meminta Syahzaman mengunjunginya. Syahzaman memenuhi permintaan kakaknya tersebut, lalu mulai mengadakan persiapan – persiapan bagi perjalan untuk mengunjungi kakanya itu. sementara itu, dia menyediakan tenda bagi wazir itu di pinggir kota, dan memenuhisemua kebutuhannya. Dia memberikan kepadanya makanan yang diinginkannya, memotong banyak kambing untuk menghormatinya, dan menyediakan uang serta barang – barang kebutuhan lainnya, juga banyak kuda dan unta.
Selama sepuluh hari penuh dia mempersiapkan dirinya untuk perjalanan itu;kemudian dia menunjuk seorang pejabat tinggi istananya untuk menduduki tempatnya selama kepergiannya, lalu meninggalkan kota untuk melewatkan malam di tendanya,dekat sang wazir. Pada tengah malam dia kembali untuk mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya. Tetapi ketika memasuki istana, ia menemukan istrinya tengah berbaring dalam pelukan salah seorang pemuda juru masak. Ketika dia melihat mereka, dunia berubah menjadi gelap dimatanya dan, dengan menggelengkan kepalanya, dia berkata kepada dirinya sendiri ‘aku masih disini, dan inilah yang dilakukannya ketika aku baru berada diluar kota. Apa jadinya dan apa yang terjadi di belakang punggung jika aku pergi menemui kakakku di India? Tidak. Wanita ini tidak bisa dipercaya.”dia menjadi sangat marah, lalu katanya “Demi Tuhan, aku adalah raja yang berkuasa di Samarkand, namun istriku mengkhianati dan menimpakan penderitaan ini diatas diriku.” Ketika kemarahannya semakin memuncak, dia menyambar pedangnya dan menebas istrinya serta juru masak itu.Lalu ia menyeret mereka dan melemparkan mereka dari puncak istana ke parit di bawahnya.
Selanjutnya dia meninggalkan kota dan pergi menemui sang Wazir, mereka memulai perjalanan, sementara hati Syahzaman masih panas karena apa yang telah dilakukan oleh istrinya terhadapnya dan bagaimana dia telah mengkhianatinya bermain serong dengan si juru masak. Mereka melakukan perjalanan dengan tergesa – gesa, siang dan malam, melalui gurun – gurun dan hutan belantara. ketika tiba di negeri Raja Syahrayar, Raja Syahrayar beranjak keluar menemui mereka.

(bersambung…)

Setelah sebuah acara pernikahan yang meriah di sebuah gedung yang besar di Jakarta berlangsung beberapa bulan yang lalu, Ayah dari pengantin perempuan memanggil suami images8.jpgdari putrinya tersebut. Duduk berdua dihalaman rumah baru yang ditempati pasangan yang berbahagia itu, dan orang tua tersebut mulai memberi nasihat kepada menantunya bagaimana cara mempertahankan pernikahannya agar bahagia.

Mungkin engkau begitu mencintai anakku” Kata Ayah kepada menantunya itu.

Oh ya, pah, pasti!”jawab sang menantu antusias.

Dan mungkin kamupun berpikir bahwa anak perempuanku itu bagaikan perempuan yang paling cantik sedunia”, lanjut orangtua itu.

Pah,dia begitu sempurna disetiap tingkah dan lakunya” jawab menantunya bersemangat

Hmm, ya begitulah adanya yang terjadi pada mu saat kamu baru saja menikah” lanjut Ayah menantunya itu,”tetapi setelah beberapa tahun berjalan, engkau akan melihat ternyata anak perempuanku memiliki banyak kelemahan. Dan engkau pun mulai membenci berbagai kelemahan yang ia miliki. Aku hanya ingin engkau ingat satu hal. Jika dia tidak memiliki kelemahan semua itu, Nak!. Mungkin ia telah menikahi seseorang yang lebih baik dari kamu!”

 

Oleh sebab itu selalu berterima kasihlah terhadap kelemahan yang dimiliki oleh pasangan kita karena jika ia tidak memiliki kelemahan itu maka ia tidak berbuat kesalahan memilih kita sebagai pasangan kita dan ia mungkin sudah menikahi orang yang jauh lebih baik dari kita.

Jangaimages1.jpgn pernah menganggap para pelaku kejahatan sebagai penjahat, tetapi perlakukan mereka sebagai seseorang yang telah melakukan kejahatan. Hal ini dikarenakan jika mereka disebut dan diperlakukan sebagai penjahat, mereka percaya bahwa mereka adalah penjahat. Itulah cara bermainnya.

Seperti Kisah seorang anak kecil menjatuhkan dan menumpahkan sebungkus susu cair saat di Supermarket, susu itu berceceran di seluruh lantai dimana ia berdiri.

Dasar anak Bodoh!” kata ibunya.

 

Pada kisah lainnya, anak kecil lain juga menjatuhkan sebotol madu. Saking keras jatuhnya, botol madu tersebut pecah dan menumpahkan seluruh isi madu tersebut di lantai. “Kamu tahu,nak. Ini adalah perbuatan terbodohmu” kata ibunya.

 

Anak yang pertama telah dikalsifikasikan sebagai anak bodoh seumur hidupnya; dan anak yang kedua dikategorikan sebagai seseorang yang telah melakukan kesalahan yakni berbuat bodoh. Anak yang pertama mungkin akan benar – benar menjadi bodoh; dan anak yang kedua justru akan belajar untuk tidak melakukan perbuatan bodoh lagi.

 

Ini adalah cerita favoriteku saat aku berada di Thailand. Dari seorang biksu tua cerita ini meluncur, Ayam dan Bebek.

Alkisah, sepasang suami istri muda yang baru saja melangsungkan pesta pernikahan mereka sedang berjalan bersama menyusuri lembah sambil menikmati teduhnya suasana sore. Mereka begitu menikmati keindahan sore itu, dan merasa bahwa keindahan ini merupakan anugrah kebahagiaan sore itu untuk mereka. Tiba – tiba mereka mendengar suara dari kejauhan : “Kwek!Kwek!”

“Sayang,” Kata istrinya, “suara itu pasti suara ayam”

“Bukan. Itu suara bebek,sayang”kata si suami.

“Hmm,aku yakin koq, itu pasti suara ayam”timpal istri.

“Nggak mungkin!kalau suara Ayam”petok!petok!, nah, kalau suara bebek “kwek!kwek!”,dan yang terdengar tadi adalah suara bebek,sayang!”kata suami sambil memandang istrinya sinis.

“Kwek!Kwek!” suara itu berbunyi lagi.

“Tuh khan, Itu suara bebek”kata suaminya lagi.

“Enggak,Itu pasti ayam, aku sangat yakin itu” kata istri sambil memalingkan mukanya dari wajah suaminya.

“hei!dengerin ya! Itu “be…be…ka, BEBEK! bebek!paham enggak sih!” semprot suaminya marah.

“ta..ta..tapi itu kan ayam” istrinya protes.

“orang bodohpun tahu itu bebek, kamu gimana sih!!!”

Kemudian terdengar lagi “Kwek!Kwek!”

Si istri sambil menangis  mengucapkan.”Tapi itu Ayam”.

Sang suami melihat air mata menetes dari wajah sitrinya dan tiba – tiba ia ingat alasan kenapa ia menikah dengan perempuan dihadapannya itu. Raut mukanya kemudian berubah dari kesal menjadi lembut dan berkata dengan pelan,” Maafin, sayang. Aku pikir kamu benar. Itu memang suara Ayam.”

Sambil mengusap air matanya, istrinya berkata” Terima kasih,sayang”.

Kwek!Kwek!Kwek!Kwek!suara itu berunyi lagi, ini kali suara lebih lama dari sebelumnya seolah mengiring pasangan suami istri muda  meninggalkan lembah itu.

Inti dari cerita diatas adalah akhirnya sang suami sadar bahwa siapa yang peduli bahwa suara tersebut suara bebek atau suara ayam. Apa yang lebih penting dari suara tadi adalah  kebersamaan mereka  sendiri, kebahagiaannya menikmati sore dengan mesra. 

Jika anda mau menghitung, berapa banyak pernikahan berakhir dengan perceraian hanya karena masalah yang sepele seperti masalah “ayam atau bebek” tadi.

Jika kita memahami cerita tadi,maka kita akan mengerti prioritas kita sendiri. Pernikahan  tentu lebih penting dibandingkan dengan hanya meributkan ayam atau bebek. Tetapi, pernahkah juga kita sadar berapa kali kita merasa sangat sangat yakin bahwa kita benar, dan melihat pasangan kita hanyalah seonggok kesalahan kemudian setelah itu ternyata justru kita yang salah…!Siapa tahu?contohnya, mungkin saja si istri benar bahwa suara tersebut berasal dari ayam yang secara genetik suaranya dirubah seperti suara bebek!.

Ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa pertanyaan 33212859951.jpgyang saya ingat, antara lain: “Di manakah Brazilia?”, “Di Manakah Buenos Aires?”, “Apakah Vatikan itu?”. Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun 1996, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun kemudian, ketika melamar pekerjaan, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada salah satu tes. Saat ini, di tahun 2007, saya masih menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan dilakukan di sejumlah sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah ironi yang menyedihkan, orang-orang yang menggunakan tes itu seolah menganggap bahwa sang waktu telah membeku. Lebih menyedihkan lagi orang –orang yang mengerjakan tes itu, kemanusiawian mereka terpasung oleh pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka, padahal itu adalah pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun.

Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa menafikkan perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona, bintang-bintang sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela adalah hal-hal yang jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, bagaimana pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita tahu bahwa psikotes tak jarang menentukan “nasib” seseorang. Dalam dunia kerja, seseorang bisa tidak diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan akibat hasil psikotes. Seorang siswa bisa dikategorikan bodoh, terbelakang, dan berbagai label lain, karena hasil psikotes.

Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes. Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis kemampuan menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara parsial juga ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan kursus-kursus seperti Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri, sebelum sampai pada semua permasalahan ini, masih menyimpan problem internal berkaitan dengan adaptasinya pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang digunakan sebagai psikotes, masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang menggunakan gambar seperti TAT misalnya, sebagian menggunakan latar situasi (bangunan, pakaian, pemandangan) yang asing untuk Indonesia.

Kebenaran

Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk “mengkategorikan” kemampuan anak didiknya. Baru-baru ini, saya dengar bahwa jenjang pendidikan setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan murid. Kita juga bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan psikotes untuk menerima, memutasi atau memberhentikan karyawan. Bahkan, ketika saya menulis artikel ini, ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah (Pilkada) juga menggunakan psikotes sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui para calon kepala daerah. Dengan begitu banyak kelemahan dalam hal validitas, ternyata psikotes masih juga ditempatkan sebagai “kebenaran” dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran yang menjadi acuan bagi keputusan akan nasib dan penilaian terhadap kemampuan manusia. Lebih jauh, kebenaran ini dapat pula mentaksonomi manusia, menempatkannya dalam hirarki kualitas yang akan menentukan nasib dan hidupnya.

Pada suatu titik; psikotes membuat manusia tak lebih dari sekedar angka. Manusia kehilangan keunikan diri, segala kelebihan yang hanya dimiliki oleh dirinya sebagai pribadi unik [dan satu-satunya di dunia] akan hilang oleh kriterium psikotes. Manusia telah dimasukkan dalam penyeragaman yang membuatnya tak lebih dari kerumunan; bahkan, sampai batas tertentu menjerat manusia dalam jejaring kekuasaan. Nasibnya, berada di bawah kekuasaan orang lain yang memiliki modal tertentu. Kemanusiaannya ditentukan oleh interpretasi psikologis yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki lisensi. Saya ulangi lagi, “memiliki lisensi”; artinya tidak sama dengan memiliki kemampuan. Memiliki lisensi, belum tentu memiliki kemampuan, tapi dalam “wacana psikotes” antara “memiliki lisensi” dan “memiliki kemampuan” kerap ditumpangtindihkan. Lebih jauh, kepemilikan akan lisensi itu sendiri, telah menjadi bagian dari kekuasaan ketika lisensi itu hanya bisa dikeluarkan oleh aparatus tertentu.

Lisensi untuk menginterpretasi dan menentukan nasib orang ini, hanya bisa diperoleh ketika seorang sarjana psikologi mengikuti pendidikan profesi yang diadakan oleh sejumlah fakultas Psikologi. Bagi angkatan 1992 dan sebelumnya, lisensi ini bisa diperoleh melalui pelatihan diagnostik yang diadakan oleh organisasi profesi, dalam hal ini Himpsi. Sampai di sini, program profesi psikologi maupun Himpsi, adalah ‘aparatus’ yang memiliki kekuasaan untuk melegitimasi kebenaran psikotes melalui penyelenggaraan pendidikan yang akan menghasilkan lisensi-lisensi yang dipertukarkan dengan hak menginterpretasi psikotes. Apapun hasilnya, jika psikotes telah diinterpretasi mereka yang memegang lisensi, akan ditempatkan sebagai kebenaran. Akhirnya, dalam wacana psikotes, psikologi menjadi tak lebih dari ilmu yang sifatnya tekstual ketimbang kontekstual. Pada sisi tertentu, psikologi telah jaut ke dalam bentuk ‘pertukangan’ yang hanya mengoperasikan alat-alat tes.

Inilah yang dijelaskan Pierre Bourdieu sebagai kekuasaan yang beroperasi melalui modal simbolik. Angka-angka dalam psikotes menjadi modal simbolik. Lisensi menggunakan alat-alat psikotes adalah modal simbolik. Gelar psikologi adalah modal simbolik. Keanggotaan Himpsi adalah modal simbolik. Modal ini berguna untuk mendominasi orang lain, melegitimasi dan memapankan posisi sendiri. Dalam pembahasan Bourdieu, sebenarnya dicermati kenyataan bahwa kekuasaan beroperasi dan menyembunyikan diri melalui budaya. Dalam konteks ini, kita mencermati kekuasaan yang beroperasi dalam “budaya akademis”. Kelompok terdominasi adalah kumpulan individu-individu yang menerima begitu saja (taken-for-granted) terhadap konstruksi-konstruksi yang ditawarkan oleh kelompok pendominasi. Agar kelompok yang didominasi menerima begitu saja, maka kelompok terdominasi harus memiliki modal yang mampu melegitimasi dominasinya melalui penaklukan moral dan intelektual kelompok terdominasi. Modal adalah hal-hal yang dalam kebudayaan merupakan suatu yang diyakini penting.

Dalam psikotes, orang menjadi tak lebih dari angka-angka. Nasib orang dan bagaimana orang itu digambarkan ditentukan oleh angka yang dimilikinya. Sedangkan dalam wacana pendidikan, kita menemukan pula bahwa sistem pendidikan pun meredusir manusia sebatas angka. Angka membuat orang dapat dikategorikan bodoh, pintar, juara, rangking, cum laude, summa cum laude, teladan, dll. Banyak orang menerima begitu saja bahwa dirinya bodoh hanya dengan patokan angka itu. Orang jadi tidak mengenali diri dan segala keunikan yang dimiliki. Sebaliknya, mereka yang oleh angka-angka itu dinobatkan sebagai makhluk-makhluk exellent, menerima begitu saja tanpa pernah merefleksikan kelayakan dirinya. Situasi seperti ini menjadi titik berangkat beroperasinya kekuasaan.

Psikotes yang diyakini sebagai kebenaran ini persis seperti apa yang digambarkan oleh Jacques Lacan seperti bayi yang melihat melihat bayangan dirinya di cermin (image), ia berpikir bahwa itu adalah dirinya. Tetapi sebenarnya bukan, itu hanya image. Tetapi orang lain (ibu) meyakinkan bahwa bayangan dalam cermin itu adalah dirinya. Pengidentifikasian diri ini disebut misrecognition, ketika bayi melihat bayangannya di cermin, ia berpikir bahwa bayangan (image) itu adalah dirinya. Sehingga Lacan berpendapat bahwa ego atau self atau “I”dentity merupakan fantasi, karena proses pengidentifikasian berasal dari eksternal image dan bukan internal. Seperti ini pula yang terjadi pada orang-orang yang meyakini hasil psikotes. Pada titik ini, orang justru jatuh ke dalam kolam citraan dan teralienasi dari dirinya sendiri. Ia mengambil begitu saja citraan yang dilekatkan orang atas dirinya dan membiarkan dirinya berada di bawah kekuasaan orang lain yang menentukan “kenormalan” dirinya, kelayakannya untuk dapat diterima sebagai anggota suatu komunitas.

Kekuasaan

Foucault mengatakan bahwa “kekuasaan yang menormalisir” tidak hanya dijalankan dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan, dan kesejahteraan. Kekuasaan dalam pandangan Foucault disalurkan melalui hubungan sosial yang memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagai baik atau buruk, dalam upaya pengendalian perilaku. Relasi sosial itulah yang memproduksi bentuk pemahaman subjektif atas perilaku dalam kompleksitas yang dihadirkan sebagai bentuk restriksi. Dengan demikian, manusia menjadi layak untuk ditundukkan bukan dengan cara kontrol yang bersifat langsung dan fisik, tetapi melalui wacana dan mekanisme, prosedur, aturan, tata cara dan sebagainya.

Foucault menganalisa keterkaitan antara kekuasaan, pengetahuan, dan diskursus yang berkembang pada kemapanan penjelasan berdasar rasionalitas; yang hadir secara progresif dan telah diyakini banyak orang; sehingga memfungsikannya sebagai normalisasi yang menyeragamkan. Kita dapat melihat ini pada begitu banyaknya orang yang mempercayai begitu saja psikotes. Ini membuat intrepretasi-interpretasi psikologis diterima begitu saja sebagai penjelasan atas kemampuan seseorang. Pada titik ini, orang dipaksa untuk berada pada keseragaman kriterium penilaian yang telah dimapankan sebagai penjelas kualitas manusia. Kemapanan penjelasan inilah yang kemudian menjadi kerangka kerja rasional-empiris yang diletakkan sebagai basis dari segala kebenaran dan pengetahuan. Hegemoni penjelasan yang diletakkan di atas rasionalitas dan diinstitusi ini; memarjinalisasi diskursus lain serta mencipta dan memvalidasi suatu jaringan kekuatan sosial yang sifatnya normatif dengan mengedepankan disiplin serta pembatasan pemikiran individu hanya pada ranah mikrolevel.

Hasil psikotes, meminjam istilah Jorge Luis Borges, lebih berfungsi sebagai peta yang mendahului daerah (peta a teritori) ketimbang daerah yang menjadi acuan membuat peta (teritori a peta). Orang akan cenderung mengafirmasi dan memperlakukan orang lain berdasarkan hasil psikotes. Apalagi, hasil psikotes, kebanyakan justru tidak diketahui oleh pribadi yang menjalani tes. Hasil-hasil psikotes, kebanyakan dipegang oleh HRD atau guru BP. Dalam cara pandang Foucault kita menempatkan psikotes dan penggunaannya sebagai wacana; ini berarti psikotes tak hanya yang memuat serangkaian kata atau proposisi dalam teks, tetapi juga sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain (sebuah gagasan, konsep, atau efek). Lebih kontekstual, kita dapat menempatkan psikotes sebagai wacana yang dapat dideteksi; karena secara sistematis, suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu. Psikotes, tak lepas dari wacana ilmu sosial; di mana psikologi sebagai salah satu cabangnya, membentuk suatu konsep yang mentaksonomi manusia dalam berbagai kategori. Klaim kebenaran yang diatasnamakan sains, membuat psikotes berubah menjadi alat kekuasaan, terutama ketika orang kerap percaya begitu saja taksonomi yang muncul dari perangkat ini.

Taksonomi “ke-manusia-an” ini lebih merupakan suatu upaya menguasai manusia. Dalam nature-nya yang absurd dan terus berubah, manusia adalah entitas yang sulit untuk dikuasai, namun ketika dia telah masuk dalam suatu pendefinisian menetap (fixed definition), maka manusia akan lebih mudah dikuasai. Psikotes adalah salah satu fixed definition yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menguasai pihak lain. Keberdayaan psikotes dalam menciptakan fixed definition tak lepas dari legitimasi ilmu pengetahuan beserta aparatus-aparatusnya. Psikotes, melalui penyelenggaraan program profesi psikologi oleh perguruan tinggi, telah ditempatkan sebagai kebenaran mutlak. Ilmu pengetahuan, pada titik ini telah berubah ke arah dogmatisme, karena orang menerima begitu saja tanpa memberikan cermatan lebih jauh pada hasil psikotes. Kesalingterkaitan antara kekuasaan dan pengetahuan ditandai Foucault dengan garis miring (/) yang ditempatkan di antara Kekuasaan (power) dan Pengetahuan (knowledge).

Kemanusiawian yang Hilang

Foucault menjelaskan bahwa kita disosialisasi ke dalam seperangkat praktik diskursif yang berupa struktur pemaknaan. Tetapi ini bukan struktur yang bersifat menetap atau tak bisa diubah. Manusia adalah agen yang memediasi struktur ini. Dengan demikian kelanggengan struktur ini sangat tergantung pada bagaimana penerimaan manusia. Dalam kaitan dengan psikotes, semakin kita menerima dan menempatkan hasilnya sebagai kebenaran, maka kita akan semakin terkuasai oleh struktur itu. Lebih jauh, kita akan semakin terasing dari kemanusiawian kita.

Kemapanan Psikotes sebagai kebenaran, memang tak lepas dari budaya dan ideologi yang berkembang di masyarakat. Psikotes, bisa jadi telah menjadi bagian dari budaya populer yang menyimbolkan modernitas. Sebuah ideologi dalam dunia sumber daya manusia yang dianut oleh orang-orang yang memerlukan pembenar semu dalam keputusannya. Pada titik ini, saya jadi teringat Antonio Gramsci yang menjelaskan bahwa budaya dan ideologi menciptakan makna tetapi makna ini secara konstan diperjuangkan melampaui struktur yang dimediasi oleh manusia sebagai agen. Ini lebih jauh dijelaskan dalam konsep mengenai hegemoni, di mana manusia tertaklukkan secara moral dan intelektual karena berbagai dalil yang tidak dicermati secara kritis. Orang percaya begitu saja bahwa mereka yang bergelar psikolog atau master dalam psikologi, adalah para “ahli” yang dapat menginterpretasi secara presisi kemanusiawian orang lain. Kita mungkin lupa bahwa kemanusiawian kita tak akan pernah bisa diinterpretasi atau ditaksonomi. Manusia justru bertumbuh dalam ketidakpastiannya, karena dalam ketidakpastian itulah terbetik harapan.

Jacques Derrida menjelaskan bahwa makna tak pernah menetap, dia secara konstan berubah. Makna tergantung manusia sebagai agen yang mengoperasikannya. Demikian pula dengan psikotes, dia bukan sebuah pemaknaan menetap akan manusia. Pemaknaannya akan sangat tergantung keterkaitannya dengan berbagai hal lain yang juga terus berubah (sinkronik) dan perubahan yang terjadi sepanjang rentang waktu (diakronik). Psikotes adalah salah satu upaya pencarian melalui proses pemaknaan. Sayang, dalam perkembangannya, orang banyak menetapkan sebagai acuan harga mati atau pemaknaan yang bersifat menetap. Psikotes bahkan berubah menjadi stigmatisasi ketika ditemukan interpretasi psikologis yang menyatakan bahwa seseorang menyimpang.

Manusia adalah entitas yang tak pernah memiliki pemaknaan menetap. Dia hidup dalam absurditas dan pergerakan pencarian diri, justru dalam absurditas dan pencarian inilah manusia menemukan kemanusiawiannya. Biarlah manusia tumbuh dalam absurditasnya, seperti Sisifus yang justru menemukan kebahagiaannya ketika dia dihukum oleh dewa untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung; dan mengulanginya lagi karena setiap sampai ke puncak batu itu kembali menggelinding ke bawah. Seluruh kebahagiaan bisu Sisifus terletak pada proses ini, karena dengan demikian nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd, ketika ia merenungi kehidupan dengan segala ketidakpastian serta tanggung jawab hidup atas talenta yang dianugerahkan semesta padanya, ia berkemampuan untuk membuat semua [patung] berhala psikotes membisu.

Tulisan ini tak hendak mendiskreditkan psikotes maupun pihak-pihak yang menggunakan atau mengoperasikannya. Tak pula hendak merendahkan mereka yang memiliki lisensi menginterpretasi, karena saya tahu sebagian dari mereka memang handal dan kompeten. Hal esensial yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita mencermati hal-hal di balik psikotes dan implikasi-implikasinya. Bagaimana anda menerima dan sejauh mana anda mempercayai psikotes, semua tetap merupakan pilihan bebas anda sebagai manusia.

Bagaimana cermatan anda?

 

Diam

38242784981.jpgTuhan, kata bunda Theresa,  bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata dan bulan bergerak tanpa berisik. Tiap agama menghargai tafakur. Tuhan sebenarnya tak pernah mengisyaratkan agar manusia memasang pengeras suara di pagi buta, dengan kaset rekaman yang lama tak diganti. Yang dianjurkan adalah sebuah sholat sejenek dengan suara rendah. lebih ketat dari tafakur sehari – hari. adalah para biarawan Trappis, sebuah ordo dalam gereja katolik yang berdiri di Perancis pada Abad ke- 17. Di biara mereka yang sunyi, para rahid itu menjalani hidup tanpa bicara. mereka hanya berdoa dan bekerja.

Hening memang sebuah pengakuan tentang Tuhan sebagai yang tak terungkapkan dalam bahasa, sebab Ia senantiasa misteri yang kekal. Di Jawa, orang kebatinan, yang terpengaruh oleh sufisme Islam, mengambarkan bahwa kehidupan batin yang aktif cenderung berkaitan dengan sikap tidak omong. Bahasa Jawa menyebut “berkata dalam hati” sebagai “mbatin” meskipun tak berarti bahwa dalam Kongres kebatinan semua orang tak bicara sepatah katapun. dalam tradisi Hindu ada saat relijius yang disebut dalam bahasa sanskerta sebagai “sunyata”, yang berarti “kekosongan”,atau sawung. Ketika kata Sanskerta itu tumbuh di awa, ia hampir sinonim dengen pengertian “realitas yang lebih mulia”

Tuhan,”realitas yang lebih mulia”itu, memang bersahabat dengan diam. Tetapi apa yang terjadi seandainya Tuhan sendiri adalah Yang Maha Tak Bicara?Pengalaman Relijius memang bisa tumbuh tanpa kitab yang menghadirkan titah Tuhan. Tak semua agama mempunyai  Quran. Tak semua iman memiliki Musa yang membawa 10 Perintah. Tetapi setidaknya bagi manusia, Tuhan sebagai zat yang mungkin bisa disebut “Differance Yang Absolut” sekalipun karena “tak suatupun yang menyamai Nya” selalu dibayangkan sebagai Tuhan yang membuka, atau memungkinkan,komunikasi.

Kata, percakapan, akhirnya memang tak terelakkan. Ia bahkan bisa menentukan. Manusia dan Juga Tuhan tidak sendiri melainkan selalu dalam  bahasa. Bahsa mengasumsikan adanya sebuah dialog, dan dialog mengasumsikan sebuah ruang bersama. bahasa memang menjadi kurang relevan ketika kita berhubungan dengan Yang Maha Tak Terumuskan, dan disitu “ruang bersama” adalah sebuah momen tafakur, saat sunyata, sebuah samadhi. tetapi diluar itu, ruang adalah sebuah polis, tempat dimana kita berurusan dengan sesama.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.